| 4. Teori Belajar dalam Aliran Humanisme | |||||||
| Humanisme memandang bahwa belajar adalah usaha untuk memanusiakan | |||||||
| manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya | |||||||
| dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun | |||||||
| ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar pada | |||||||
| aliran humanism ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang | |||||||
| pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. | |||||||
| Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan | |||||||
| dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka | |||||||
| sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensipotensi | |||||||
| yang ada dalam diri mereka. Kaum humanis menerapkan pendidikan dan | |||||||
| pembelajaran berdasarkan pada kebutuhan dan minat siswa. Karena kebutuhan dan | |||||||
| minat adalah faktor yang mendorong atau memotivasi kita. | |||||||
| a. Teori dari Arthur Combs | |||||||
| Arthur Combs bersama dengan Donald Snygg mencurahkan banyak perhatian pada | |||||||
| dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering | |||||||
| digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa | |||||||
| memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan | |||||||
| mereka. Anak tidak bisa pada mata pelajaran matematika atau IPS bukan karena | |||||||
| bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa serta merasa sebenarnya tidak | |||||||
| ada alasan penting harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain | |||||||
| hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak | |||||||
| akan memberikan kepuasan baginya. | |||||||
| b. Teori dari Maslow | |||||||
| Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal, | |||||||
| yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau | |||||||
| menolak perkembangan itu. | |||||||
| Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi | |||||||
| kebutuhan yang bersifat hirarkis. Menurut Maslow, setiap individu memiliki | |||||||
| kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling | |||||||
| mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada | |||||||
| tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih | |||||||
| tinggi. | |||||||
| Hirarki kebutuhan Maslow, sebagai berikut: 1) kebutuhan fisik misalnya oksigen | |||||||
| untuk bernapas, air untuk diminum, makanan, papan, sandang, buang hajat kecil | |||||||
| maupun besar, dan fasilitas-fasilitas yang dapat berguna untuk kelangsungan | |||||||
| hidupnya, 2) kebutuhan akan rasa aman dan tenteram (Safety Needs) misalnya | |||||||
| mengusahakan keterjaminan finansial melalui asuransi atau dana pensiun, dan | |||||||
| sebagainya, 3) kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (Belongingness Needs), | |||||||
| misalnya menjalin persahabatan, 4) kebutuhan harga diri secara penuh ( Esteem | |||||||
| Needs) meliputi kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, perhatian, | |||||||
| reputasi, kebanggaan diri, dan kemashyuran. Tipe atas terdiri atas penghargaan oleh | |||||||
| diri sendiri, kebebasan, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan khusus | |||||||
| (spesialisasi), 5) butuhan Aktualisasi Diri ( Self Actualization Needs). | |||||||
| c. Teori dari Carl Rogers | |||||||
| Carl Rogers (dalam Suranto, 2015) membedakan dua tipe belajar, yaitu: Kognitif | |||||||
| (kebermaknaan) dan experiential ( pengalaman atau signifikansi). Guru | |||||||
| menghubungan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan terpakai seperti | |||||||
| mempelajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning | |||||||
| menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar | |||||||
| experiential learning mencakup: keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, | |||||||
| evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa. | |||||||
| Menurut Rogers (2002) yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah guru | |||||||
| memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu: | |||||||
| 1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa | |||||||
| tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya. | |||||||
| 2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian | |||||||
| bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian | |||||||
| yang bermakna bagi siswa | |||||||
| 3) Pengorganisasian bahan pembelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan | |||||||
| ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. | |||||||
| 4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang | |||||||
| proses. | |||||||
| d. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Humanistik | |||||||
| Menurut Crichshank, Jenkins & Metcalf (2012) dalam Suranto (2015) ada beberapa | |||||||
| proposisi-proposisi dari penganut pembelajaran humanistik. Dari proposisiproposisi | |||||||
| di atas, diperoleh beberapa prinsip pembelajaran humanistik sebagai | |||||||
| berikut: | |||||||
| 1) Pembelajaran hendaknya berfokus pada upaya untuk memahami cara manusia | |||||||
| menciptakan perasaan, sikap dan nilai-nilai. | |||||||
| 2) Pembelajaran hendaknya bertemakan upaya untuk memenuhi kebutuhan | |||||||
| dasar, terutama aspek afektif seperti emosi, perasaan, sikap, nilai dan moral. | |||||||
| 3) Pembelajaran hendaknya menumbuhkan harga diri dan keyakinan. | |||||||
| 4) Pembelajaran hendaknya berfokus pada kebutuhan dan minat siswa. | |||||||
| 5) Sekolah harus menyesuaikan diri menurut kebutuhan anak, bukan anak yang | |||||||
| menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah. | |||||||
| Implikasi dari teori humanistik akan memberi perhatian pada guru sebagai | |||||||
| fasilitator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru sebagai fasilitator, yaitu: | |||||||
| 1) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, | |||||||
| situasi kelompok, atau pengalaman kelas | |||||||
| 2) Guru sebagai fasilitator hendaknya membantu untuk memperoleh dan | |||||||
| memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan | |||||||
| kelompok yang bersifat umum. | |||||||
| 3) Guru harus mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk | |||||||
| melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan | |||||||
| pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. | |||||||
| 4) Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang | |||||||
| paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai | |||||||
| tujuan mereka. | |||||||
| 5) Guru menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk | |||||||
| dapat dimanfaatkan oleh kelompok. | |||||||
| 6) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelas, guru mencoba untuk | |||||||
| menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi | |||||||
| kelompok | |||||||
| 7) Guru harus mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya | |||||||
| dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi | |||||||
| sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh | |||||||
| siswa | |||||||
| 8) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, guru harus mencoba untuk | |||||||
| menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri. | |||||||
| Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses | |||||||
| pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. | |||||||
Selasa, 04 Oktober 2016
Teori Belajar dalam Aliran Humanisme
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar